RSS
Tampilkan postingan dengan label ♥Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf♥. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ♥Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf♥. Tampilkan semua postingan

♥Adab-Adab Penuntut Ilmu♥

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah, amma ba’du. Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itu sudah semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini. Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.


ADAB PERTAMA

Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla

Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.

Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.

ADAB KEDUA

Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain

Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau miliki.

ADAB KETIGA

Bermaksud Membela Syariat

Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu saya katakan: Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh musuh Allah ‘azza wa jalla.

ADAB KEEMPAT

Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf

Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang seperti ini orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan perkataan anda tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan anda dalam masalah itu, seandainya kita berpendapat demikian niscaya kita pun akan katakan bahwa perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan anda.

Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh berselisih tentangnya. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka dalam hal ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan lain yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf semacam ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebagai penyebab permusuhan dan kebencian.

Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian orang akan bisa lenyap, bahkan terkadang terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Keadaan seperti ini tentu saja membuat gembira musuh-musuh Islam, sedangkan perselisihan yang ada di antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang sangat besar, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)

ADAB KELIMA

Beramal Dengan Ilmu

Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal inilah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya. Oleh karenanya terdapat sebuah hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”

ADAB KEENAM

Berdakwah di Jalan Allah

Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza wa jalla, dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Perhatikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya duduk-duduk saja di rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan bergerak ke sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut ilmu yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkannya.

ADAB KETUJUH

Bersikap Bijaksana (Hikmah)

Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman yang artinya, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” (QS. al-Baqarah: 269). Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa jalla, hendaknya dia berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak, sebagaimana yang difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang artinya, “Dan barang siapa yang diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam dakwahnya.

Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125). Dan Allah ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat dalam mendebat Ahli kitab dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.” (QS. al-’Ankabuut: 46). Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.

ADAB KEDELAPAN

Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu

Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu karena apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap belajar ilmu niscaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.

ADAB KESEMBILAN

Menghormati Ulama dan Memosisikan Mereka Sesuai Kedudukannya

Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan melapangkan dada-dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka, dan hendaknya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru, ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini termasuk kesalahan yang terbesar. Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya, karena dengan menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan bahaya yang tidak hanya mengenai diri orang alim itu sendiri, akan tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu syar’i yang dibawanya.

Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu atau harga diri mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya pun ikut gugur. Apabila dia menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepadanya maka akibat gunjingan orang ini terhadap orang alim itu akan menjadi penghalang orang-orang untuk bisa menerima ilmu syar’i yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat besar dan mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan anggapan mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan memberikan toleransi bagi mereka atas kekeliruan yang mereka lakukan, dan hal itu tidaklah menghalanginya untuk berdiskusi dengan mereka dalam masalah yang mereka yakini bahwa para ulama itu telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah kekeliruan itu bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap mereka salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa perkataan orang alim itu telah keliru, kemudian setelah diskusi ternyata tampak jelas baginya bahwa dia benar. Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa bertaubat”. Adapun merasa senang dengan ketergelinciran seorang ulama dan justru menyebar-nyebarkannya di tengah-tengah manusia sehingga menimbulkan perpecah belahan maka hal ini bukanlah termasuk jalan Salaf.

ADAB KESEPULUH

Berpegang Teguh Dengan Al Kitab dan As Sunnah

Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, perkara-perkara itu adalah :

1. Al-Qur’an Al-Karim

Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam membacanya, menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya karena al-Qur’an itulah tali Allah yang kuat, dan ia adalah landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu sangat bersemangat dalam mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi berbagai kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu besar semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak mau menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang besar dalam hal metode menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa mengulang-ulangi bahwa seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an, mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang selaras dengan pemahaman salafush shalih.

2. As Sunnah yang shahihah

Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah penjelas al-Qur’an al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk menggabungkan antara keduanya dan bersemangat dalam mendalami keduanya. Penuntut ilmu sudah semestinya menghafalkan as-Sunnah, baik dengan cara menghafal nash-nash hadits atau dengan mempelajari sanad-sanad dan matan-matannya, membedakan yang shahih dengan yang lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan membelanya serta membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah guna menentang as-Sunnah.

ADAB KESEBELAS

Meneliti Kebenaran Berita yang Tersebar dan Bersikap Sabar

Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita-berita yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena berita tersebut. Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya begitu saja. Sebab tindakan semacam ini akan membahayakan bagi penuntut ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Dan cara seperti ini tidak akan membuahkan ilmu. Seandainya dia mendapatkan ilmu, maka yang diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan landasan pemahaman. Contoh orang yang hanya sibuk mengumpulkan permasalahan itu seperti perilaku orang yang sibuk mencari berita dari berbagai surat kabar dari satu koran ke koran yang lain. Karena pada hakikatnya perkara terpenting yang harus dilakukan adalah ta’shil (pemantapan pondasi, ilmu ushul) dan pengokohannya serta kesabaran untuk mempelajarinya.

 
Dengan perantara nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang tertinggi ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Begitu banyak nikmat telah hamba sia-siakan. Umur, kesempatan, waktu luang, kesehatan dan keamanan. Semuanya telah Engkau curahkan, namun aku selalu lalai dan tidak pandai mensyukuri pemberian-Mu. Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini, untuk meraih kebahagiaan pada hari di mana tidak ada lagi hari sesudahnya, ketika kematian telah disembelih di antara surga dan neraka. Ketika para penduduk surga semakin bergembira dan para penghuni neraka bertambah sedih dan merana. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, terjaganya kehormatan dan kecukupan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

***

Adab-adab ini disadur dari Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-’Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

♥7 Terapi Hasad♥

 
Seorang muslim yang hanif tentulah sadar bahwa penyakit hasad adalah penyakit yang harus diatasi mengingat bahaya yang ditimbulkannya teramat besar. Artikel ini secara singkat berusaha memberikan beberapa kiat untuk mengatasi penyakit hasad tersebut. Semoga bermanfaat

Obat yang paling pertama adalah mengakui bahwa hasad itu merupakan sebuah penyakit akut yang harus dihilangkan. Tanpa adanya pengakuan akan hal ini, seorang yang tertimpa penyakit hasad justru akan memelihara sifat hasad yang diidapnya. Dan pengakuan bahwa hasad adalah sebuah penyakit yang berbahaya tidak akan timbul kecuali dengan ilmu agama yang bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat, hal ini berarti bahwa seorang yang ingin mengobati hasad yang dideritanya harus memiliki pengetahuan atau ilmu, dan pengetahuan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu secara global dan secara terperinci.
Pertama, secara global, maksudnya dia mengetahui bahwa segala sesuatu telah ditentukan berdasarkan qadha dan qadar-Nya; segala sesuatu yang dikehendaki-Nya akan terjadi dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi. Demikian pula, dia menanamkan dalam dirinya bahwa rezeki yang telah ditetapkan dan diberikan Allah kepada para hamba-Nya, tidak akan berubah dan tertolak karena ketamakan dan kedengkian seseorang.

Kedua, secara terperinci, yakni dia mengetahui bahwa dengan memiliki sifat hasad, pada hakekatnya dia membiarkan sebuah kotoran berada di mata air keimanan yang dimilikinya, karena hasad merupakan bentuk penentangan terhadap ketetapan dan pembagian Allah kepada para hamba-Nya. Dengan demikian, hasad merupakan tindakan pengkhianatan kepada saudara-Nya sesama muslim dan dapat mewariskan siksa, kesedihan, kegalauan yang berkepanjangan. Demikian pula, hendaklah dia menanamkan kepada dirinya bahwa hasad justru akan membawa berbagai dampak negatif bagi dirinya sendiri, baik di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, orang yang dihasadi justru memperoleh keuntungan berupa limpahan pahala akibat hasad yang dimilikinya [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah].

Jadi bagaimana bisa seorang berakal membiasakan dirinya untuk dengki (hasad) kepada orang lain?!

Muhammad ibnu Sirin rahimahullah mengatakan,

“Saya tidak pernah dengki kepada orang lain dalam perkara dunia, karena apabila dia ditetapkan sebagai ahli jannah, bagaimana bisa saya mendengkinya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju jannah. Sebaliknya, jika dia adalah ahli naar, bagaimana bisa saya dengki kepadanya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju naar” [Muktashar Minhajul Qashidin 177].

Dengan amal perbuatan yang bermanfaat, yaitu melakukan kebalikan dari perbuatan-perbuatan negatif yang muncul sebagai akibat dari sifat hasad [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah]. Hal ini diisyaratkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat: 34).

Jika sifat hasad mendorongnya untuk mencemarkan dan memfitnah orang yang didengkinya, maka ia harus memaksakan lidahnya untuk memberikan pujian kepada orang tersebut. Jika sifat hasad mendorongya untuk bersikap sombong, maka ia harus memaksa dirinya untuk bersikap tawadhu’ (rendah hati) kepada orang yang didengkinya, memuliakan, dan berbuat baik kepadanya. Jika di kali pertama dia bisa memaksa dirinya untuk melakukan berbagai hal tersebut, maka insya Allah selanjutnya dia akan terbiasa melakukannya, dan kemudian hal itu menjadi bagian dari karakternya.

Meneliti dan menelusuri sebab-sebab yang membuat dirinya menjadi dengki kepada orang lain, kemudian mengobatinya satu-persatu. Misalnya, sifat sombong diobati dengan sifat tawadhu‘ (rendah hati), penyakit haus kedudukan dan jabatan diobati dengan sifat zuhud, sifat tamak (rakus) diobati dengan sifat qana’ah dan berinfak, dst.
Di antara obat hasad yang paling mujarab adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam firman-Nya,
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (An Nisa: 32).

Dalam ayat ini, Allah ta’ala melarang hamba-Nya iri (dengki) terhadap rezeki yang berada di tangan orang lain, dan Dia menunjukkan gantinya yang bermanfaat di dunia dan akhirat yaitu dengan memohon karunia-Nya karena hal tersebut terhitung sebagai ibadah dan merupakan perantara agar permintaannya dipenuhi apabila Allah menghendakinya [Fatawasy Syabakah Al Islamiyah 7/278; Maktabah Asy Syamilah].

Bersandar kepada Allah, bermunajat serta memohon kepada-Nya agar berkenan mengeluarkan penyakit yang kotor ini dari dalam hatinya.
Banyak mengingat mati. Abud Darda radhiallahu ‘anhu mengatakan,
من أكثر ذكر الموت قل فرحه وقل حسده

“Seorang yang memperbanyak mengingat mati, niscaya akan sedikit girangnya dan sedikit pula sifat hasadnya” [Hilyatul Auliya 1/220].

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

♥Ucapan Para Salaf Tentang Pentingnya Waktu♥


قاَلَ التَّابِعِيُّ الْجَلِيْلُ حَسَنُ الْبَصْرِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَم إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Al-Hasan Al basri rahimahullah berkata :

Wahai anak adam sesungguhnya kalian adalah kumpulan hari demi hari
Tatkala berlalu suatu hari maka berkuranglah umurmu

وَقَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ” إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلاَنِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا

Umar bin Abdul Aziz -rahimahullah- berkata :

“Sesungguhnya siang dan malam itu berbuat padamu (terus berputar bergantian lenyap) maka beramallah pada siang &malam.”

قاَلَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا نَدِمْتُ عَلَى شئٍٍٍٍ نَدِمْتُ عَلَى يَوْمٍ وَ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلِي وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِي

Ibnu mas’ud radhiyallahuanhu semoga Allah meridhainya berkata :

“Tidaklah aku menyesali atas sesuatu seperti penyesalanku atas berlalunya satu hari dan mataharinya terbenam , umurku berkurang, akan tetapi tidak bertambah amalanku pada hari itu.”

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 44 hal. 59)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

♥GHUROBA♥


Bismillah...
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Sesungguhnya islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing, maka pohon thuba (disurga) untuk orang yang terasing." Dikatakan : "Siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab : (yaitu) orang-orang yang berbuat ishlah (kebaikan) ketika manusia telah rusak." (Hr.Abu Amru Ad Daani)." (lihat silsilah shahihah no.1273)

Ia terasing dalam berpegang pada sunnah, karena mereka berpegang pada bid'ah.

Ia terasing dalam aqidahnya karena telah banyak penyimpangan dalam aqidah manusia.

Ia terasing dalam shalatnya karena banyak manusia yang shalat tidak sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu'alaihi wasallam.

Ia terasing dalam pakaiannya karena ia berusaha memegang yang sesuai dengan sunnah.

Ia pun terasing dalam pergaulannya, karena ia tidak mengikuti hawa nafsu manusia.

Ia adalah orang yang berilmu ditengah manusia yang jahil,

Ia adalah pemegang sunnah di tengah manusia yang berbuat bid'ah,

Ia adalah penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya ditengah para penyeru kepada hawa nafsu dan syubhat.

Dinukil dari kitab "Panduan Hidup Di Akhir Zaman" (Abu Yahya Badru Salam)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

♥Para Salaf dan Nasihat♥



 Bismillah...

Alloh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):
Maka Sholih meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanah Robb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. al-A’rof [7]: 79)
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):
“Sesungguhnya agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya: “Untuk siapa, wahai Rosululloh?” Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Alloh, demi al-Qur’an, demi Rosul-Nya, demi para pemimpin kaum muslimin, dan demi kaum muslimin seluruhnya.” (HSR. Abu Dawud: 4944, an-Nasa’i: 4199, dishohihkan oleh al-Albani)
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (artinya):
“Hak seorang muslim atas sesama muslim di antaranya ada enam hal; ……dan apabila ia meminta nasihat maka nasihatilah ia…” (HR Muslim: 2162)
Dari Isma’il berkata: “Telah bercerita kepadaku Qois bin Abi Hazim dari Jarir bin Abdillah rodhiyallohu’anhu berkata; ‘Aku berbai’at kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk tetap setia di atas menegakkan sholat, menunaikan zakat, serta menasihati setiap muslim.” (HR. Bukhori: 57 dan Muslim: 56)
Di antara hikmah para salaf ialah sikap mereka terhadap nasihat. Mereka saling menasihati. Mereka lapang menerima nasihat.
Dari Muhammad bin Manshur dari Ali bin Madini dari Sufyan berkata: “Tholhah mendatangi Abdul Jabbar bin Wail. Tatkala itu dia berada bersama manusia. Lalu Tholhah pun merahasiakan (sesuatu) kepadanya lalu pergi. (Setelah Tholhah pergi) Sufyan berkata: “Apakah kalian tahu apa yang telah dia katakan kepadaku? (Tholhah) telah mengatakan (kepadaku): ‘Kemarin aku melihatmu sedang menoleh sedangkan kamu dalam keadaan sholat.’” (Roudhotul Uqola’, Ibnu Hibban, hlm. 197)
Dari Ibnul Mubarok berkata: “Dahulu seseorang (para sahabat) apabila melihat pada saudaranya terdapat hal yang tidak ia sukai ia pun memerintahkannya atau melarangnya dengan sembunyi, sehingga dia diberi pahala atas rahasia dan larangannya (dari sesuatu yang tidak disenangi). Adapun hari ini, apabila seseorang melihat apa yang ia tidak sukai, ia membuat marah saudaranya dan ia sebarkan aibnya.” (Roudhotul Uqola’ hlm. 197)
Fudhoil bin Iyadh berkata: “Seorang yang beriman akan merahasiakan dan menasihati, sedangkan pelaku maksiat ia akan beberkan (aib) dan akan menjelek-jelekkan.” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 77)
Dengan demikian, para salaf sangat beruntung dengan nasihat. Yang lebih tua tidak merasa risih dengan nasihat yang lebih muda. Demikian juga sebaliknya. Dan mereka menerima nasihat dan berterima kasih kepada pemberi nasihat. Tidak sebagaimana hari ini, apabila ada seseorang yang menasihati saudaranya tentulah saudaranya justru akan memperhatikan aib-aibnya untuk dilecehkan dengannya.

Lalu di mana hikmah kita posisinya saat dihadapkan pada hikmah salaf kita?

http://alghoyami.wordpress.com/2010/09/05/para-salaf-dan-nasihat/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

♥Renungan♥



Bismillah..
Imam Syafi'i berkata : "Keridhaan seluruh manusia itu merupakan tujuan (cita-cita) yang tidak mungkin dicapai. Oleh karena itu engkau harus berpegang pada hal-hal yang dapat memperbaiki dirimu. Sebagaimana diketahui bahwasannya tidak ada yang dapat memperbaiki jiwa kecuali dengan mendahulukan keridhaan Tuhannya diatas yang lainnya."


Barang siapa mengutamakan keridhaan ALLAH, maka ALLAH akan mencukupinya dari beban kemurkaan makhluk-NYA. Akan tetapi jika dia mengutamakan keridhaan manusia, maka mereka tidak akan mampu untuk mencukupinya dari beban kemurkaan ALLAH padanya. 


Sebagian Ulama Salaf mengatakan: "Untuk menjadikan rela satu wajah adalah lebih mudah bagimu daripada menjadikan rela banyak wajah. Sesungguhnya jika kamu menjadikan rela satu wajah (ALLAH), niscaya akan cukup bagimu dari kerelaan seluruh manusia."


Maka dahulukan keridhaan ALLAH Azza wa Jalla atas yang lainnya, yakni dengan berniat dan mengerjakan sesuatu yang akan mendatangkan keridhaan-NYA meskipun segenap manusia akan membencinya. 


Janganlah engkau gentar terhadap celaan dan cacian. Cobaan/Ujian itu pasti berat pada awalnya. Namun jika engkau sanggup mengembannya maka ujian itu akan berubah menjadi pertolongan ALLAH, yang akan membawa pada kenikmatan dan kebahagiaan.


Firman ALLAH Ta'ala :


“Katakanlah: ”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk ALLAH, RABB semesta alam.” 
(QS Al-An’aam:162)


“Katakanlah:”Apakah aku akan mencari RABB selain ALLAH, padahal DIA adalah RABB bagi segala sesuatu?” 
(QS al-An’aam:164)


-------
[Syarah Riyadhus Shalihin jilid 2, Penjelasan Tentang Tingkatan Al-IItsar (Mengutamakan Orang Lain) bagian ke-2 Mendahulukan Keridhaan ALLAH, Syaikh Salim bin `Ied Al-Hilali]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

♥Tips Agar Bisa Berbaik Sangka Dan Contoh Dari Para Salaf Dalam Hal Ini♥





Bismillah..
Tidak ada yang lebih menenangkan bagi hati seseorang pada kehidupan ini daripada berbaik sangka, dengannya ia bisa terhindar dari berbagai penyakit yang membingungkan yang menyerang hati 
dan merusak pikiran. Hal ini sebagai wujud dari sabda Nabi shallallahu’alayhiwasallam. 


حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ 
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا 


(BUKHARI - 5604) : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." 


Sumber : Bukhari 
Kitab : Adab 
Bab : Larangan saling mendengki dan menjauhi 
No. Hadist : 5604 


Apabila anggota suatu masyarakat memiliki watak mulia seperti ini maka musuh mereka tidak akan mendekati mereka selamanya dan tidak akan mampu menerapkan politik mereka yang sudah dikenal yaitu: Devide Et Impera [politik adu domba]. 


Berikut adalah sebab-sebab yang dapat membantu kita untuk berbaik sangka: 


1. Doa 


Ia adalah pintu bagi segala kebaikan. Nabi selalu berdoa meemohon kepad Rabb-Nya untuk memberikan hati yang bersih. Dan berbaik sangka adalah bagian dan indikasi dari hati yang bersih. 


2. Menempatkan diri pada posisi orang lain. 


3. Membawa ucapan saudara kita kepada kemungkinan terbaik. Begitulah yang diterapkan oleh generasi salaf. Perhatikan ucapan dua salaf [pendahulu] kita dalam hal ini: 


‘Umar bin Khaththab berkata: 


“Jangan menyangka buruk terhadap saudaramu apabila masih mungkin dimaknai dengan makna yang baik” 


Ketika Imam Syafi’ sakit, sebagian saudaranya yang datang menjenguk berkata: 


“Semoga Allah menguatkan kelemahanmu!” 


Imam Syafi’i menjawab: “Andaikan semakin kuat kelemahanku niscaya [kelemahan tsb-ed] membunuhku” 


Temannya menimpali: “Aku tidak bermaksud kecuali yang baik!” 


Imam Syafi’i menjawab: “Aku tahu, andaipun kamu mencaciku, pasti kamu tidak menginginkan kecuali kebaikan [bagiku-ed]” 


Beginilah contoh ikatan persaudaraan yang hakiki... 


4. Berusahalah mencarikan alasan untuk saudaranya [seagama-ed]. 


Ingatlah orang-orang shalih selalu berbaik sangka dan selalu mencarikan alasan bagi saudaranya. 


Sampai mereka berkata: 


“Carikan untuk saudaramu alasan, sekalipun dengan 70 alasan” 


Imam Muhammad bin Sirin berkata: 


“Jika sampai kepadamu berita miring tentang saudaramu maka cobalah carikan uzur baginya. Jika tidak mendapartkan maka katakanlah mungkin ia memiliki alasan [yang belum kuketahui-ed]. Karena ketika kamu mencarikan alasan untuk saudaramu maka jiwamu akan terhaindar dari sikap buruk sangka dan dampak buruknya sehingga kamu tidak akan mencacinya” 


5. Jauhi memvonis orang dengan niatnya 


Ini merupakan sikap terpenting yang dapat menyebabkan kita berbaik sangka. Ingat! Allah tidak memerintahkan kita untuk membedah apa yang ada di dalam hati seseorang. 


6. Ingatlah akibat dari berburuk sangka 


Diantara akibat dari buruk sangka adalah: 


a. Siapa yang berburuk sangka kepada manusia, maka ia akan berada dalam kemelut yang tidak akan berhenti. Semua orang yang bergaul dengannya akan terkena, apalagi orang yang terdekat dengannya. 


b. Mendorong seseorang untuk selalu menuduh orang lain. 


c. Terjerumus kepada merasa dirinya suci. Ini adalah tazkiyatun nafs [merasa diri suci] yang dilarang dalam firman Allah: 


فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى 
"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa"
[An-Najm: 32]. 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS